Menyingkap 'Rumah Tikus' Para Migran di Beijing

shares

Lorong di 'kerajaan tikus' Beijing.
SAUNG99 -  Mimpi untuk hidup enak dan menyenangkan di kota besar, tidaklah semudah bermimpi. Butuh perjuangan keras dan kerja yang tidak mudah. Banyak sekali orang-orang yang pergi ke kota besar, berakhir dengan kegagalan atau tinggal di daerah-daerah kumuh.

Hal ini biasanya di alami oleh kota-kota besar di seluruh dunia. Bahkan negara yang sangat maju pun, seperti Bahrain, terapat sisi kumuh yang jarang sekali terlihat. Dan pemerintanya menyembunyikan dari dunia luar.

Demikian juga di salah satu kota besar di Asia, Beijing. Banyak yang pindah ke kota dengan mimpi membuatnya besar. Tetapi ternyata, hidup di sana tidaklah murah. Sehingga mereka harus tinggal di 'rumah tikus' bekas bunker, seperti apa kehidupan di sana?



Bagian 'rumah tikus' Beijing.
Para migran yang berasal dari pedesaan, terpaksa harus hidup di bawah tanah. Dan tempat ini biasa disebut dengan 'Rumah atau kerajaan Tikus. Sekitar satu juta orang tinggal di rumah bekas bunker, yang berada di bawah permukaan kota terbesar kedua di Tiongkok.

Hidup di sana bukan gratis atau tanpa biaya. Setiap warga yang tinggal harus menyewa, namun dengan harga yang cukup murah, sekitar 300 yuan per bulan atau Rp600 ribu.



Anak dan ibu bermain di 'rumah tikus.'
Bunker-bunker ini didirikan pada tahun 1969, di bawah pemerintahan Mao selama Perang Dingin.

Pada saat itu, pemerintahan Mao khawatir serangan Soviet mendekat, semua penduduk kota diperintahkan untuk mempersiapkan langkah-langkah keamanan. Sekitar 20.000 tempat penampungan penduduk dari ancaman bom digali.

Ketika Mao meninggal dan Deng Xiaoping menggantikannya, taktik defensif tersebut ditinggalkan, dan meninggalkan kota dengan jaringan sia-sia gua di bawah tanah.

Maka tidak mengherankan, ratusan orang kini menjadi pemilik rumah bawah tanah ini, dan menjadikannya sebagai lahan usaha, serta menjadikannya sebagai kamar hostel.

Pada pertengahan 90-an, pemerintah membuat skema dan menjadikan bunker-bunker tersebut menjadi sistem perumahan nirlaba.



Di dalam petak 'rumah tikus.'
Ini berarti orang-orang seperti Zhang Xi, seorang calon aktor dari Mongolia, bisa mengejar impiannya di salah satu kota besar.

Penghuni lainnya termasuk Chen Laxiu, seorang wanita 50 tahun dari kota pertambangan batu bara di Liupanshui, pindah ke Beijing untuk berada di dekat anak-anaknya, setelah pertanian terbukti tidak menguntungkan. Dan banyak kisah penghuni lainnya, yang penuh haru.

Terletak di dekat padang pasir utara timur, jaringan rumah tikus ini digunakan di semua musim, baik itu musim dingin atau musim panas, hangat, dan semi.

Namun, tempat tinggal ini menyisakan tanda tanya yang menggantung, terutama di masa depan penduduknya terhadap kesehatan dan keselamatan. Dan warga pribumi melihat bahwa, suku Tikus--penghuni rumah tikus--ini penyusup, yang tidak diinginkan.

Namun, meskipun kota berencana untuk menghapus sistem ini, mereka tidak menyediakan jawaban yang mudah untuk memberikan perumahan yang terjangkau.

Untuk saat ini, masa depan tidak pasti. (Mail Online)

Related Posts

1 comments

  1. Bahrain bukan negara maju , makanya adminnya taunya jangan jepang doang!!!

    ReplyDelete