Kisah Anak Lima Tahun yang Hidup Bak Tikus

shares

Pavel, bocah korban konflik.
SAUNG99 -  Bagi anak-anak, hidup normal dan bisa bermain adalah impiannya. hal ini untuk menunjang tumbuh kembang anak sempurna. Anak juga harus bebas dari intimidasi dan kekerasan fisik, yang bisa membentuk pola pikir yang salah.

Namun tidak semua anak bisa menikmati kehidupan yang layak, dan sesempurna yang mereka inginkan. Terkadang keadaan orangtua, konflik, hingga faktor lainnya, membuat anak harus rela hidup serba kekurangan dan keterbatasan.

Seperti anak-anak yang tumbuh dan tinggal di tempat konflik, banyak yang harus rela berjuang dengan segala kekurangan demi bertahan hidup. Bahkan mereka harus rela hidup di bawah tanah, agar terhindar dari kematian.

Seperti anak laki-laki yang kotor ini, berusia lima tahun mengintip dan berharap di sekitar pintu darurat, di mana seorang wanita sedang mempersiapkan pancakenya.

Seperti tikus yang hidup sebagai hewan peliharaan, Pavel telah terbiasa dengan keberadaan bawah tanah selama sembilan bulan bulan lebih, tinggal di ruang bawah tanah di mana dia makan, tidur dan bermain.

Pavel, bocah korban konflik. sumber
Didampingi oleh keluarga dan kelompok lainnya, yang telah melihat kota mereka terus berada di zona perang. Anak-anak muda harus mengambil perlindungan dari ancaman yang selalu ada, baik peluru nyasar dan tembakan artileri.

Pavel dan keluarganya tinggal di ruang bawah tanah, di pusat budaya di Petrovskiy, daerah Donetsk di bawah kendali pemberontak pro-Rusia, dan di atasnya telah terjadi bentrokan berat selama berbulan-bulan yang menakutkan, antara pasukan Ukraina dan pemberontak.

Pada tanggal 15 Februari lalu dilakukan gencatan senjata, pertempuran mungkin telah berkurang tetapi tidak berhenti sama sekali.

Dentuman artileri dan senjata otomatis masih bergema, pohon tumbang dan rumah-rumah pecah bagaikan kaca. Pulang ke rumah bukan pilihan yang aman.

Ia harus melalui kehidupan di ruang bawah tanah yang tampak sederhana, dengan listrik seadanya. Keluarga ini bisa memiliki cahaya dan mampu menggunakan kompor untuk memasak.

Koleksi lusuh furnitur dan perabotan lainnya yang bisa diselamatkan dari bangunan di atas, menghiasi rumah bawah tanah mereka.

Keluarga ini putus asa, dan salah satu dari ribuan penduduk sipil yang dipaksa meninggalkan rumah mereka karena konflik--yang dimulai pada April 2014, setelah Kiev mengirimkan militernya ke wilayah tenggara yang menolak untuk mengakui otoritas baru di ibukota.

Hampir satu tahun pertempuran telah berlangsung, dan menyebabkan setidaknya 5.793 kematian, menurut perkiraan PBB.

Related Posts

0 comments:

Post a Comment