Kuda Zebra Ternyata Bisa Jadi Pemicu Migrain, Bagaimana Bisa?

shares

Kuda zebra. Foto: dailymail.co.uk
Migrain mungkin pernah dialami oleh Anda, atau bahkan mengalaminya hampir setiap hari. Banyak faktor yang bisa menjadi pemicu migrain ini, seperti stres, kurang tidur, atau bahkan kaos belang dan juga motif kuda zebra.

Apapun penyebabnya, migrain memang bisa mengganggu produktivitas kita. Apalagi jika Anda sedang dikejar tenggat waktu, tentunya tidak ada alasan untuk menyembuhkan migrain dengan segera, terutama menggunakan obat-obatan.

Seperti disebutkan di atas, jika migrain juga bisa disebabkan kaos bermotif belang dan juga zebra. Lantas apa penyebabnya dan bagaimana penanganan untuk migrain jenis ini? Dan apakah itu sangat berbahaya?

Sebuah tinjauan telah menemukan bahwa, beberapa orang akan menderita reaksi otak saat melihat pola batang hitam dan putih.

Dalam kasus ekstrim, mereka dapat memicu terjadinya epilepsi, dan para ilmuwan percaya bahwa garis-garis seperti yang ditemukan pada barcode dan desain bangunan juga, dapat menyebabkan sakit kepala yang melumpuhkan pada orang-orang yang peka terhadap cahaya.

Sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh University Medical Centre Utrecht, di Belanda, melihat osilasi gamma di otak, diukur dengan menggunakan elektroda yang menempel pada kulit kepala.

Gelombang otak ini dipicu oleh garis vertikal hitam dan putih, namun tidak oleh gambar termasuk awan lembut dan pemandangan alam.

Kabar baiknya adalah penderita migrain bisa meminta pasangan untuk mengganti pola tersebut. Mengubah garis-garis menjadi kontras dalam warna atau lebarnya, bisa menenangkan aktivitas di otak, yang menurut para ilmuwan dapat menyebabkan kejang dan sakit kepala.

Dr Dora Hermes, dari UMC Utrecht, mengatakan: "Temuan kami menyiratkan bahwa dalam merancang bangunan, penting untuk menghindari jenis pola visual yang dapat mengaktifkan sirkuit ini dan menyebabkan ketidaknyamanan, migrain, atau kejang."

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa orang-orang dengan migrain dipengaruhi oleh garis-garis, dengan satu penelitian pada tahun 1989 menemukan 82 persen penderita migrain sensitif terhadap garis pisah, dibandingkan dengan hanya 6,2 persen dari mereka yang tidak terkena migrain.

Para ilmuwan telah mempelajari kegiatan ini, menggunakan tes EEG untuk mengukur aktivitas otak listrik, sejak tahun 1980an. Para ilmuwan juga tidak mengerti, mengapa osilasi gamma melonjak saat seseorang melihat pola parut hitam dan putih.

Dalam laporan baru tersebut, Hermes dan rekan-rekannya menyimpulkan bahwa gambar inilah yang paling mungkin memicu kejang dan dapat mempengaruhi sakit kepala migrain.

Related Posts

0 comments:

Post a Comment