Dibombardir 23 Bom Atom, Kehidupan di Bikini Atoll Muncul Kembali

shares

Ledakan bom atom di Bikini Atoll. Foto: dailymail.co.uk.
Bikini Atoll merupakan salah satu pulau yang memiliki keindahan luar biasa, bahkan disebut-sebut sebagai pulau surga. Namun, pulau ini digunakan oleh militer Amerika Serikat untuk melakukan 23 uji coba senjata nuklir 70 tahun yang lalu.

Pulau yang berada di Samudera Pasifik ini, pernah memiliki populasi tumbuhan dan hewan yang beragam. Bahkan banyak terumbu karang yang dipenuhi ikan seperti ikan kakap, hiu dan tuna.

Tapi semenjak ujicoba nuklir dilakukan semuanya sirna, dan pulau ini bagaikan medan perang. Semuanya luluh lantak, bahkan radiasi sangat tinggi. Tapi setelah 70 tahun berlalu, kehidupan mulai kembali di pulau surga ini.

Bahkan kini ada kepiting besar yang berpesta buah kelapa, meskipun air tanah di sini masih mengandung radioaktif, sebagai bagian dari ekosistem yang digambarkan oleh para ahli sebagai hewan 'sangat tahan banting'.

Para ilmuwan sekarang mengurutkan DNA, terutama terumbu karang di Bikini Atoll, untuk lebih memahami bagaimana mereka bisa bertahan.

Studi ini dapat membantu peneliti lebih memahami, bagaimana DNA tertentu dapat memerangi penyakit genetik, seperti kanker.

Temuan yang dipimpin oleh para ilmuwan di Stanford University di California utara, ditampilkan dalam sebuah episode Big Pacific yang ditayangkan pada tanggal 28 Juni, sebuah serial TV sejarah alam di PBS.

Studi tersebut juga berfokus pada laporan tentang hiu mutan, yang kehilangan sirip punggung kedua mereka di sekitar kawah bom hidrogen yang terendam, di dekat pulau tersebut.

Bikini Atoll saat ini.
Profesor Steve Palumbi, seorang ilmuwan kelautan di Stanford dan timnya telah mempelajari dampak keracunan radiasi pada kehidupan laut, dan mengatakan bahwa ekosistem yang aneh itu 'sangat tahan banting'.

Jika dilihat dengan mata telanjang, kepiting, ikan dan karang di sekitar Bikini Atoll terlihat normal, dan beberapa karang telah ada selama beberapa dekade lalu.

Selama Perang Dingin, Amerika Serikat meledakkan setidaknya 23 bom nuklir di Bikini Atoll, termasuk pada tahun 1954 yang 1.100 kali lebih kuat daripada bom atom Hiroshima.

Bom-bom ini diledakkan antara tahun 1946 hingga 1954, yang membuat karang dan spesies lainnya terkena tingkat radioaktivitas tinggi yang terus-menerus.

"Ini adalah lingkungan yang luar biasa, cukup aneh," katanya.

Meskipun satwa liar tumbuh subur, situs Bikini Atoll masih dianggap berbahaya bagi manusia. Sebuah laporan tahun 2012 untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa, ada 'pencemaran lingkungan yang tidak dapat dipulihkan'.

"Ini adalah lokasi paling rusak yang pernah kita lakukan ke laut, menjatuhkan 23 bom atom di atasnya, namun samudra benar-benar berusaha menghidupkannya kembali," kata Profesor Palumbi.


Related Posts

0 comments:

Post a Comment